Jenis-jenis sistem budidaya tanaman secara hidroponik


Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi tanaman baik sayuran maupun buah segar dan sehat, masyarakat perkotaan khususnya mulai tertarik untuk melakukan kegiatan berkebun. Dengan banyaknya masyarakat yang melakukan kegiatan berkebun di sekitar rumahnya, maka menjadi trend kegiatan berkebun Urban Farming (pertanian perkotaan). Sehingga tidak aneh lagi saat ini jika pada bagian sisi rumah masyarakat tampak ditanami sayuran dan tanaman buah.

Untuk mendapatkan kebutuhan sayur dan buah segar dan sehat, salah satunya dilakukan masyarakat dengan berkebun secara hidroponik. Hidroponik merupakan salah satu solusi bagi masyarakat yang tidak mempunyai lahan pertanian khusus, tapi mempunyai pekarangan rumah yang cukup untuk berkebun. Hidroponik menjadi salah satu alternatif yang banyak diminati saat ini karena lebih praktis.

Salah satu faktor yang membuat hidroponik lebih praktis karena ada banyak pilihan teknik atau sistem yang bisa digunakan dalam berkebun. Mulai dari sistem hidroponik yang sederhana dalam skala hobi hingga sistem hidroponik untuk skala bisnis. Banyaknya sistem hidroponik ini dapat memfasilitasi siapapun yang ingin belajar berkebun. Bagi pemula bisa menggunakan sistem hidroponik sederhana seperti wick system (sistem sumbu) dan rakit apung. Sedangkan bagi penggiat hidroponik dapat menggunakan sistem yang lebih kompleks seperti NFT, Drip/fertigasi, dan sebagainya.


Jenis sistem budidaya tanaman pertanian hidroponik

Berikut ini beberapa sistem hidroponik yang digunakan dalam budidaya tanaman sayuran dan buah.

1. Sistem Sumbu (Wick System)

Bagi pemula, wick system (sistem sumbu) adalah sistem hidroponik yang paling mudah untuk dibuat. Selain mudah, juga murah karena dapat menggunakan barang-barang bekas seperti botol plastik bekas, box buah, dan lainnya. Cara kerja wick system seperti sumbu kompor. Air nutrisi hidroponik akan naik menuju perakaran tanaman melalui media sumbu karena sifat kapilaritas zat cair.



2. Sistem Rakit Apung (Floating Raft)

Foto : Fb Ronny Tanumihardja - Hidroponik sistem rakit apung
Pada sistem rakit apung dibutuhkan styrofoam yang akan berfungsi sebagai rakit. Selain itu, juga diperlukan wadah penampungan nutrisi. Pada wadah inilah styrofoam dihamparkan yang kemudian diisi dengan tanaman hidroponik. Kelebihan sistem ini adalah tanaman mendapatkan nutrisi secara terus menerus. Selain itu, perawatan modul/perangkat rakit apung relatif lebih mudah.

Foto : Fb Ronny Tanumihardja - Hidroponik sistem rakit apung
3. NFT (Nutrient Film Technique)

Animasi hidroponik sistem NFT
NFT adalah sistem hidroponik yang banyak diaplikasikan. Pada teknik ini air nutrisi mengalir sangat tipis sekitar 3 mm pada daerah perakaran tanaman. Sistem ini memiliki kadar Oksigen terlarut yang sangat baik. Sehingga hasil tanaman yang dihasilkan relatif baik. Kekurangan sistem NFT adalah pompa nutrisi harus menyala selama 24 jam.

Foto : Fb Yudi Supriyono - Hidroponik sistem NFT
4. DFT (Deep Flow Technique)

Sistem DFT dapat dikatakan sistem turunan dari sistem hidroponik NFT. Jika pada sistem NFT, air nutrisi harus mengalir secara terus menerus, maka tidak begitu dengan DFT. Pompa nutrisi dapat dimatikan selama beberapa jam. Saat pompa nutrisi mati, larutan nutrisi pada gully masih tersimpan. Sehingga tanaman masih bisa tumbuh dengan baik. Sistem ini bisa menjadi salah satu solusi bagi kawan yang masih menggunakan sumber listrik berupa genset yang tidak hidup selama 24 jam.


5. Drip / Irigasi tetes /Fertigasi

Animasi Hidroponik sistem Fertigasi sederhana
Sistem drip / irigasi tetes lebih banyak digunakan untuk tanaman buah. Pada sistem drip nutrisi diberikan dalam jumlah yang sedikit (tetesan) namun terkontrol. Sehingga tanaman buah khususnya bisa tumbuh secara optimal.
Foto : Fb Anton Soepryono - Hidroponik sistem drip irigasi/tetes
6. Autopot

Animasi hidroponik sistem Autopot

Sistem Autopot cocok untuk skala hobi maupun pemula. Sistem autopot membutuhkan biaya yang relatif murah untuk pembuatannya. Dengan sistem autopot, penyiraman tanaman terjadi secara terus menerus (otomatis) selama larutan nutrisi masih tersedia pada botol/wadah nutrisi.

Hidroponik Sistem Autopot (Foto dari Halaman Fb Rumah Hidroponik Pontianak)

Hidroponik Sistem Autopot (Foto dari Halaman Fb Rumah Hidroponik Pontianak)
Untuk memilih sistem hidroponik yang akan digunakan, perlu dipertimbangkan jenis tanaman yang akan dibudidayakan. Jika pembudidaya akan menanam sayuran seperti sawi, bayam, pakchoy, selada, dan lainnya, pembudidaya dapat menggunakan sistem wick, NFT, dan DFT. Sedangkan untuk menanam tanaman buah seperti tomat, cabe, terong, dan lainnya dapat menggunakan sistem drip/fertigasi.

Begitulah informasi mengenai jenis-jenis sistem budidaya tanaman secara hidroponik. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan. Ayo menanam!


Show EmoticonHide Emoticon